Biro Umroh Murah Jogja, Travel Umroh Murah Solo, Biro Perjalanan Umroh Murah Jakarta, Jasa Paket Umroh Murah, Jasa Paket Umroh Murah
Tata Cara
Pelaksanaan Umrah
Jika
seseorang akan melaksanakan umrah, dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebelum
berihram dengan mandi sebagaimana seorang yang mandi junub, memakai
wangi-wangian yang terbaik jika ada dan memakai pakaian ihram.
Kedua:
Pakaian
ihram bagi laki-laki berupa dua lembar kain ihran yang berfungsi sebagai sarung
dan penutup pundak. Adapun bagi wanita, ia memakai pakaian yang telah
disyari’atkan yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun tidak dibenarkan memakai
cadar/ niqab (penutup wajahnya) dan tidak dibolehkan memakai sarung tangan.
Ketiga:
Berihram
dari miqat untuk dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ عُمْرَةً
“labbaik
‘umroh” (aku memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah).
Keempat:
Jika
khawatir tidak dapat menyelesaikan umrah karena sakit atau adanya penghalang
lain, maka dibolehkan mengucapkan persyaratan setelah mengucapkan kalimat di
atas dengan mengatakan,
اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
“Allahumma
mahilli haitsu habastani” (Ya Allah, tempat tahallul di mana saja Engkau
menahanku).
Dengan
mengucapkan persyaratan ini—baik dalam umrah maupun ketika haji–, jika
seseorang terhalang untuk menyempurnakan manasiknya, maka dia diperbolehkan
bertahallalul dan tidak wajib membayar dam(menyembelih seekor kambing).
Kelima:
Tidak
ada alat khusus untuk berihram, namun jika bertepatan dengan waktu shalat
wajib, maka shalatlah lalu berihram setelah shalat.
Keenam:
Setelah
mengucapkan “talbiah umrah” (pada poin ketiga), dilanjutkan
dengan membaca dan memperbanyak talbiah berikut ini, sambil mengeraskan suara
bagi laki-laki dan lirih bagi perempuan hingga tiba di Makkah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك
لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
“Labbaik
Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata,
laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku
menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,
aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan
hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).
Ketujuh:
Jika
memungkinkan, seseorang dianjurkan untuk mandi sebelum masuk kota Makkah.
Kedelapan:
Masuk
Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Allahummaf-tahlii
abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).[1]
Kesembilan:
Menuju
ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah
Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika
tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu
mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk
mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun
tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran
thawaf.
Kesepuluh:
Kemudian,
memulai thawaf umrah 7 putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di
Hajar Aswad pula. Dan disunnahkan berlari-lari kecil pada 3 putaran pertama dan
berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.
Kesebelas:
Disunnahkan
pula mengusap Rukun Yamani pada setiap putaran thawaf. Namun tidak dianjurkan
mencium rukun Yamani. Dan apabila tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka
tidak perlu memberi isyarat dengan tangan.
Keduabelas:
Ketika
berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca,
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Robbana
aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar”
(Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). (QS. Al Baqarah: 201)
Ketigabelas:
Tidak
ada dzikir atau bacaan tertentu pada waktu thawaf, selain yang disebutkan pada no.
12. Dan seseorang yang thawaf boleh membaca Al Qur’an atau do’a dan dzikir
yang ia suka.
Keempatbelas:
Setelah
thawaf, menutup kedua pundaknya, lalu menuju ke makam Ibrahim sambil membaca,
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
“Wattakhodzu
mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim
tempat shalat) (QS. Al Baqarah: 125).
Kelimabelas:
Shalat
sunnah thawaf dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim[2], pada rakaat pertama setelah membaca surat Al
Fatihah, membaca surat Al Kaafirun dan pada raka’at kedua setelah membaca Al
Fatihah, membaca surat Al Ikhlas.[3]
Keenambelas:
Setelah
shalat disunnahkan minum air zam-zam dan menyirami kepada dengannya.
Ketujuhbelas:
Kembali
ke Hajar Aswad, bertakbir, lalu mengusap dan menciumnya jika hal itu memungkinkan
atau mengusapnya atau memberi isyarat kepadanya.
Kedelapanbelas:
Kemudian,
menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i umrah dan jika telah mendekati
Shafa, membaca,
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Innash
shafaa wal marwata min sya’airillah” (Sesungguhnya Shafa dan Marwah
adalah sebagian dari syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).
Lalu
mengucapan,
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
“Nabda-u
bimaa bada-allah bih”.
Kesembilanbelas:
Menaiki
bukit Shafa, lalu menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya—jika hal itu
memungkinkan—, kemudian membaca:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (3x)
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ
وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah
Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. (3x)
Tiada
sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang
menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tiada
sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah
melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu
dengan sendirian.”[4]
Keduapuluh:
Bacaan
ini diulang tiga kali dan berdoa di antara pengulangan-pengulangan itu dengan do’a
apa saja yang dikehendaki.
Keduapuluhsatu:
Lalu
turun dari Shafa dan berjalan menuju ke Marwah.
Keduapuluhdua:
Disunnahkan
berlari-lari kecil dengan cepat dan sungguh-sungguh di antara dua tanda lampu
hijau yang beada di Mas’a (tempat sa’i) bagi laki-laki, lalu berjalan biasa
menuju Marwah dan menaikinya.
Keduapuluhtiga:
Setibanya
di Marwah, kerjakanlah apa-apa yang dikerjakan di Shafa, yaitu menghadap
kiblat, bertakbir, membaca dzikir pada no. 19 dan berdo’a dengan do’a
apa saja yang dikehendaki, perjalanan (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu
putaran.
Keduapuluhempat:
Kemudian
turunlah, lalu menuju ke Shafa dengan berjalan di tempat yang ditentukan untuk
berjalan dan berlari bagi laki-laki di tempat yang ditentukan untuk berlari,
lalu naik ke Shafa dan lakukan seperti semula, dengan demikian terhitung dua
putaran.
Keduapuluhlima:
Lakukanlah
hal ini sampai tujuh kali dengan berakhir di Marwah.
Keduapuluhenam:
Ketika
sa’i, tidak ada dzikir-dzikir tertentu, maka boleh berdzikir, berdo’a, atau
membaca bacaan-bacaan yang dikehendaki.
Keduapuluhtujuh:
Jika
membaca do’a ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
“Allahummaghfirli
warham wa antal a’azzul akrom” (Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemurah), tidaklah
mengapa karena telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah
bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya ketika sa’i.
Keduapuluhdelapan:
Setelah
sa’i, maka bertahallul dengan memendekkan seluruh rambut kepala atau mencukur
gundul, dan yang mencukur gundul itulah yang lebih afdhal. Adapun bagi wanita,
cukup dengan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.
Keduapuluhsembilan:
Setelah
memotong atau mencukur rambut, maka berakhirlah ibadah umrah dan Anda telah
dibolehkan untuk mengerjakan hal-hal yang tadinya dilarang ketika dalam keadaan
ihram.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar